
Selasa, 26 Maret 2013
Dua Fragmen
Ayolah, jika mengaku cinta dan suka dengan bahasa Arab, pelajari dan gunakan sesuai kaidah dan aturan main yang benar.
*ngusap pipi :’(
Memangkas Jarak
Akhir-akhir ini, karena kerinduan padanya semua memori terpanggil tanpa saya bisa menghentikannya. Mengingatnya dan merasai candu bernama rindu. Lagi-lagi saya teringat tentang rumusan 'memangkas jarak' yang saya rumuskan sendiri ketika saya sedang ingin iseng untuk berpikir dan ketika itu saya sangat merindukannya.
Ia, sosok yang saya sapa dengan panggilan Om yang sebenarnya memiliki pertalian darah sepersusuan, yang memiliki jarak usia yang tak lagi dekat tetapi ia memangkas jarak bernama usia dan masa untuk menghadapi cerita dan keluh saya, sekaligus sahabat bagi saya. Ia, yang dua minggu sebelum kepergiannya, mengajak saya diskusi untuk (calon) tesisnya, lagi-lagi, ia memangkas jarak. Ia yang S2 dengan segala pengalaman di bidangnya dan saya yang hampir purna S1 yang masih bau kencur. Ia yang memutuskan masuk magister hukum dan saya mempelajari tentang budaya, sastra, dan bahasa. Ia memangkas jarak di dua bidang yang berbeda. Dari diskusi yang tidak singkat dan berlangsung beberapa hari face to face maupun telpon, ia pun mendapatkan judul dan mendapat hadiah sebuah rasa senang karena judul (calon) tesisnya diterima.
Dalam sebuah hubungan pun ada 'jarak' yang ketika kita berani 'memangkasnya' maka hubungan itu akan semakin erat. Kekerabatan dekat sekalipun pun tanpa kita memangkas jarak juga akan terasa jauh, canggung dengan saudara sendiri. Banyak jalan untuk memangkas jarak, dengan komunikasi sekedar bertanya kabar, menemui, tersenyum, makan, dan banyak lagi kejutan-kejutan kecil untuk kita bisa hadirkan demi memangkas jarak. Lalu, saya pun tersadar, bahwa candu rindu saya padanya karena hasil kerja kerasnya memangkas jarak dengan saya. Ya, seharusnya memang seperti itu kita memperlakukannya, memangkas jarak.
Selasa, 07 Agustus 2012
Aktivitas Sore
Sore waktu yang benar-benar saya harapkan kehadirannya, bahkan untuk menyambutnya saya selalu mempersiapkan dengan sebaiknya-baiknya "Mau ngapain sore ini? Kemana?" Ya, layaknya dating mungkin.
Saya baru sadar setelah sebuah pesan mampir di inbox "Mumpung masih pagi, belum lemes, fokus ke skripsi dulu, pekerjaan lain ditinggalin dulu, refreshingnya agak sore-sore aja." Sejak menerima pesan singkat itu, saya selalu mempersiapkan menyambut sore. Saya flashback waktu-waktu sore saya selama satu semester ini ternyata menyenangkan. Bulan Februari-Maret awal-awal semester yang tidak lagi muda, sore terisi dengan keluarga di H39. April-Mei-Juni menyambut sore dengan adik-adik TPA desa Tersan Gede Mandiri Kecamatan Salam Kabupaten Magelang atau menikmati jalanan menuju Desa tersan Gede. Benar-benar suasana desa, meskipun saya juga tinggal di desa tapi suasana di tempat saya tinggal sudah bukan suasana desa. Menghabiskan sore bersama adik-adik TPA, nyanyi di depan mushalla, mendengarkan cerita dan mengaji. Tak lupa menyenyikan lagu yang dicipta sendiri melodinya oleh seorang sahabat. Pertengahan Juni-pertengahan Juli hampir setiap sore habis untuk menikmati Jogja, mengeksplore-nya. Dan sore di bulan Ramadlan ini tentunya habis untuk mengesampingkan penat. Alhamdulillah, sejak ada Eyos jadi tak sendirian lagi... ^^
Ini cerita waktu-waktu soreku, apa cerita waktu soremu?
*foto-foto menyusul ya...
Jumat, 20 April 2012
Good Guides
| Original Captured by Cindi |
Memiliki kampung halaman baru adalah 'sesuatu'. Memiliki keluarga, tetangga, saudara, dan spesial memiliki "anak-anak" yang tidak sedikit dengan segala polah dan pemikiran mereka. Sebuah desa yang tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, bising kendaraan, yang hadir adalah serangkaian musik alam yang menghadirkan kenyamanan, ketenangan bahkan menyulut kerinduan. Teringat pada anak-anak yang hadir dengan banyak tingkah dan polah. Kami berkenalan di sebuah mushalla yang sangat sederhana, fasilitas seadanya tapi semangat mereka mengalahkan semua kesederhanaan dan menyajikannya dalam bentuk kemewahan.
Malu-malu, kami saling bertanya dan mengingat nama. Melantunkan asmaul husna, mereka menjadi pengajar, kami jadi pendengar. Saling belajar. Meskipun mereka nakal, mereka tetaplah anak-anak yang masih bisa dibina dan diarahkan serta dibiasakan pada kebaikan.
Anak-anak itu pemandu yang baik, baru diawal perjumpaan, mereka menawarkan 'objek wisata' kepada kami. Mengajak kami berkenalan pada alam tempat mereka tumbuh dan bertegur sapa kepada tiap orang yang kami jumpai meskipun belum mengenalnya, sesuatu yang jarang dilakukan di perkotaan.
Di sepanjang perjalanan kami bernyanyi, menyanyikan lagu yang baru sehari dilaunching khusus untuk mereka ^^. Senangnya mendengarkan mereka bernyanyi, terasa ringan dan menyenangkan.
| Original Captured by Yorki |
Minggu, 01 April 2012
Wajah Indonesia
![]() | |
| Pantai Siung, Gunung Kidul Jogjakarta (captured by: Cindi) |
![]() |
| (captured by: Cindi) |
Menyisih ke pinggiran Jogja menilik Indonesia dari Gunung Kidul Jogjakarta, hanya ingin bertanya pada Indonesia bagaimana keadaannya. Indonesia masih memiliki pesona yang tak kalah dengan 'kawan-kawannya' di dunia. Pemilik pesona bahari yang cantik. Debur ombak dan sebuah triakan tak terlupakan "Kami mencintaimu Indonesia dan kami akan belajar merawatmu", merawat melalui bidang yang kami tekuni.
![]() |
| Foto dari Tebing |
Terimakasih telah membawaku ke pantai, merapati negri dari bahari untuk meletupkan rasa bangga dan memeriksa bahwa aku masih memilki kebanggaan ini sebagai anak negri.
Senin, 18 April 2011
Purnama #1
Malam itu seperti pakaian, waktu menyandarkan kelelahan dan kepenatan. Layaknya pakaian, malam mampu menyelimuti jagad raya. Layaknya pakaian, tak hanya menawarkan kepolosan akan tetapi selalu ada pilihan manik-manik apa yang ingin kita punya di atas pakaian kita. Tentang malam dan hamparan langit yang demikian sempurna, dengan manik-manik alam yang kian memikat dan penyembuh segala lara.
Dan purnama malam ini, kami menikmatinya di tempat yang berbeda. Sambil berbincang dan meninggalkan sejenak kewajiban yang menuntut untuk segera dilaksanakan...
Bersama al Qamaar dan al Anjaam...
Untuk kedua sahabatku, suguhan malam ini indah sekali bukan? ^^
Senin, 11 April 2011
Hujan: Cerita Pagi

Aku teringat pada detik-detik yang kugenggam. Hangat senyum penyeruak semangat. Awal harapan, nyatanya tak kudapatkan sepagi ini. Ada yang datang menyergap tentang rasa 'panas', sederhana, mengena, menerbangkan miniatur angan di awal hari ini. Lalu hujan ini mengguyur 'panas' itu, menghanyutkannya bersama air sungai, bermuara entah kemana. 'Panas' itu mendobrak paksa genggamanku dan merampas milikku yang berharga untuk hari ini. Tetapi hujan ini mampu mendahului tangis bahkan mampu membasuh air mata yang belum ada. Membuatku seolah-olah menangis. Aku tidak ingin menangis. Aku hanya ingin 'ia' kembali. 'Ia', semangatku, my good mood.
Setitik rasa hangat muncul, berbaur dengan dingin hujan, tapi kutahu hangat itu nyata. Menggunung di pelupuk mataku lalu meleleh pelan di pipi.
Hujan, tetaplah di sini mencipta cerita pagi...
..................................................................................................................................................................
leave the past behind me, today my life begins
a whole new world is waiting it's mine for the taking
i know i can make it, today my life begins
[Bruno Mars]
ولك الحقول وزهرها وأريجها # ونسيمها والبلبل المترنم
والماء حولك فضة رقراقة # والشمس فوقك عسجد ينضرم
أحبابنا ما أجمل الدنيا بكم # لا تقبح الدنيا وفيها أنتم
ايليا أبو ما ضى
Sabtu, 02 April 2011
Sensasi [Pasca] OD
OD, bukan over dosis lho melainkan itu adalah istilah yang digunakan oleh dokter gigi saya di detik-detik menjelang operasi pengangkatan gigi bungsu saya yang melintang. Sayangnya, setelah 'ritual' itu selesai, saya lupa untuk bertanya apa OD itu dalam dunia kedokteran gigi karena saya telah teralihkan oleh rasa takut apa yang akan saya rasakan jika bius itu telah habis....
Flashback: aku dan 'bungsu'
Saya masih teringat saat tengah malam saya menangis dalam keadaan tidur, bahkan setelah bangun saya justru merasakan sakit yang luar biasa di bagian gigi geraham paling belakang sebelah kanan hampir berdekatan dengan telinga. Saat itu saya menangis di depan teman-teman kos lantai tiga yang ada di depan saya, bisa dibilang saat itu saya lupa dengan umur saya (hahaha...). Karena 'ulah bungsu' saat tengah malam itu, saya bisa merasakan The Amazing of Cengtri seperti dalam film 3idiots menuju kediaman sekaligus tempat praktek my fairy tooth di Kawasan Malioboro dekat Hotel Melia Purosani. Ya, malam itu saya diaba-aba untuk segera menjalani OD karena jika 'bungsu' tak segera diangkat maka saya harus rela merasakan sakit jika 'bungsu' 'berulah' lagi. Rasa sakit itu tidak bisa diprediksi kapan akan menyerang lagi. Jika sudah menyerang, saya akan susah membuka mulut dan merasakan sakit kepala yang amat sangat. Meskipun ada obatnya tetapi jika terus-terusan mengandalkan obat dampaknya juga akan kurang sehat. Apalagi jika ditunda terlalu lama dan mendapati 'bungsu' telah berlubang, rasanya akan semakin sulit saja nantinya. Tak perlu menunggu lama, siangnya, saya pun dianjurkan untuk rontgent merekam jejak 'bungsu' yang ternyata posisinya melintang alias tertidur.
...
Saat OD: seperti melahirkan
Jujur saja, saya sebenarnya belum tahu bagaimana proses dan rasanya melahirkan tetapi pasca OD hari Senin (28/3) rasanya plong seperti seorang ibu yang selesai melahirkan melalui operasi cesar. Betapa tidak, saat itu hanya menggunakan bius blok untuk mematikan rasa untuk sementara. Semua proses dapat dilihat dan dinikmati, mulai dari pisau yang membedah gusi, proses pengangkatan hingga penjahitan. Saat 'bungsu' diangkat saya pun melihatnya, saat ia dikeluarkan dari persembunyiannya lalu dikeluarkan dari mulut saya dan diletakkan di selembar tissu putih. Melihat bahwa saya telah berpisah dengan 'bungsu' sebenarnya ada rasa sedih dalam benak saya tetapi di sisi lain saya merasa lega sesaat setelah OD.
...
Pasca OD: terasa sensasinya
Tak seperti cabut gigi biasa, setelah 'bungsu' diangkat dampaknya baru terlihat: bengkak, demam, susah buka mulut, susah makan dan susah bicara, tentunya sakit dan nyeri karena luka dan jahitan. Dari semua dampak yang bermunculan saya susah sekali menahan sakit dan keinginan untuk makan bahkan saya memanfaatkan buku ide redaksi Mini Magz untuk menulis makanan-makanan yang ingin saya makan (bersama teman-teman redaksi Mini Magz...hehehe...) dan di hari kelima pasca OD alhamdulillah saya bisa membuka mulut, bicara, sedikit lancar mengunyah meskipun belum say goodbye pada rasa sakit dan nyeri. Pasca OD juga memberi saya kesempatan ekstra untuk istirahat sejenak di rumah walaupun harus benar-benar rela meninggalan banyak tugas dan kewajiban. Saya harus senang karena hati yang senang adalah obat ^^ serta perhatian dari sahabat-sahabat saya atas saran-sarannya, terimakasih ^^
Saya hanya bisa berharap semoga setelah dilepas jahitannya akan sembuh total dan rasa sakit pasca OD selama beberapa hari ini akan terganti dengan sehat seterusnya. Bisa tersenyum, beraktivitas dan menikmati romansa diantara tumpukan tugas dan kewajiban-kewajiban yang lain ^^
Ya, inilah romantisme saya bersama 'bungsu' dan hal-hal konyol yang telah terjadi di antara kami. Meskipun sakit, saya menikmatinya.
...
*Sedikit saran dari saya, rutinlah memeriksakan gigi kalian ke dokter gigi. Itu sangat bermanfaat sekali. Sejak saya memutuskan untuk 'berpagar ayu' saya berkewajiban mengunjungi dokter gigi setiap dua minggu sekali dan itu sangat bermanfaat karena saya bisa bertanya tentang banyak hal seputar kesehatan gigi.
Selasa, 01 Februari 2011
Percaya Saja

"Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu erat", kata Arai.
Saya percaya dengan mimpi, karena mimpi adalah rencana paling sederhana yang kita punya. Terwujud atau tidaknya sebuah mimpi terletak pada kekuatan tekad kita untuk merealisasikannya atau hanya akan membiarkannya menjadi setumpuk koleksi angan-angan saja, tentunya tak lepas dari kemurahan Tuhan.
Asykuru syukran 'ala ihsaasiKa annabiil syukran jaziilan. Terimakasih telah mewujudkan mimpi-mimpi kecilku Rabbi ^o^
Dan diantara mimpi-mimpiku selanjutnya adalah memiliki bayi harimau :-D
Kamis, 28 Oktober 2010
Tentang Cinta Pagi Buta
Pagi buta pukul 01.32, mungkin merupakan pelatihan observasi. Mengamati dunia di balik mikroskop memungkinkan kita menangkap detail tentang sunyi, dingin, kegelapan, kesendirian bahkan lolongan anjing sekalipun. Seketika saya bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali deskripsi paling mendekati. Kemurnian rasa hangat yang didominasi rasa dingin khas di pagi buta.
Banyak hal yang membuat kita jatuh cinta pada hidup. Tanpa banyak kata. Tanpa banyak alasan, kita mampu mengaku bahwa kita sedang jatuh cinta. Ya, inilah rasa. Rasa yang mampu mendahului sabda. Maka, biarkanlah saya mengakuinya bahwa saya sedang jatuh cinta.
Dalam keadaan mabuk asmara, kita akan merasa lahir untuk seseorang yang kita cinta. Dalam keadaan terinspirasi, kita merasa lahir untuk berkarya dan mencipta. Seorang ibu, dalam puncak kebahagiaannya, akan merasa lahir untuk melahirkan buah hatinya. Untuk beragam alasan, kita jatuh hati pada hidup dan kehidupan. Cinta yang barangkali juga datang dan pergi sesuai dengan situasi yang terus berganti.
Rasa dingin dan suasana pagi buta ini sejenak menggerakkan saya untuk menelusuri cinta yang nyaris tak terganti, yang meski hidup kadang terasa membosankan dan menyebalkan, tetapi inilah kemurnian jiwa tanpa ada dusta di dalamnya.
Cinta pagi buta pada secangkir teh hangat.
Ada kemurnian yang selalu menjemput jiwa saya untuk sejenak berkelana meski di tengah kecemasan pada keadaan alam yang bergolak dengan berdekatan jarak tapi ada keindahan yang bergeming saat saya masih diizinkan untuk menikmati kehangatan cinta pagi buta dengan secangkir teh hangat. Sesekali ditemani riuh petir yang beradu dengan sunyi cukuplah dinikmati dengan penuh kesyukuran. Sederhana memang, sama halnya dengan semua penelusuran pelik yang biasanya berakhir pada penjelasan sederhana.
Sungguh saya tergoda berkata, secangkir teh hangat pagi buta ini adalah kekasih saya. Pacar gelap tapi tetap, yang dicumbu jiwa saya saat menjalin kasih dengan dunia materi dan sensasi ini. Bahkan rasa dingin tak mampu membendung cinta ini. Cinta pagi buta pada secangkir teh hangat.
02.18
Satu Jam Saja
aku bersemayam bersama ingatan dalam ranah yang kusebut keabadian. Kudekap, kuucap dan kucecap satu demi satu yang telah terlewat. Sebelum lautan cahaya melarutkanku dan waktu. Tanpa pernah tertukar bahkan tanpa pernah terlupa, aku menemukanmu dalam wujud yang satu.
Satu jam saja,
Aku dan kamu, mungkin kita. Kita yang menangis. Kita yang meregang di antara ruang. Mungkin juga, kita yang sedang tersesat di belantara masa.
Satu jam saja,
berjuta kaidah telah kita mainkan. Berjuta sabda telah kita ucapkan hanya untuk tahu dan merasakan jalinan rasa.
Tahukah,
meski tak terkira banyaknya masa dicipta. Meski tak terhingga rasa menjadi pembeda dan aku telah mencuri simpan dalam belantara yang kusebut kehidupan.
Satu jam saja...
*Diiringi "For The Rest of My Life" & "BarakaAllahu Lakumaa" by Maher Zain
Satu jam memasuki Hari Sumpah Pemuda
Sabtu, 23 Oktober 2010
'Salah Tempat'
Saya mendengar dan saya mendapati kalimat seperti. "I am happy because I am your zaujaty and you are my rijal", kata seorang istri kepada suaminya. Atau, "Ishbir yaa Ukhti...", kata seorang cewek pada teman ceweknya.
Baiklah, jika mendengar kalimat pertama mungkin orang akan bergumam "Subhaanaallah, dua bahasa. Hebaaatttt..." akan tetapi saya justru geli saat mendengar dan mendapati kalimat itu. [Kok ada ya...?]. Setahu saya, your adalah sebuah penanda kepemilikan untuk kamu sedangkan zaujaty [bahasa arab] berarti istriku. Lalu, my adalah penanda kepemilikan untuk aku dan rijal [bahasa arab] merupakan bentuk jamak/plural dari kata rajulun yang artinya laki-laki. Meskipun, rajulun bisa diartikan orang atau dalam konteks kalimat tersebut diartikan sebagai suami. Tetapi, dalam bahasa arab suami juga punya terjemahan tersendiri bukan dengan kata rijaal ataupun rajulun karena kata itu akan menjadi umum dan sangat luas artinya.
Kalimat kedua, Ishbir yang bermakna bersabarlah juga punya 'tempat' khusus, khusus ditujukan untuk laki-laki. Jika ditujukan untuk cewek, silakan gunakan Ishbirii untuk mengungkapkannya.
'Salah Tempat' yang membuat telinga saya geli mendengarnya dan membuat mata saya juga 'geli' saat melihatnya. Pemahiran bahasa memang harus dilatih dengan cara latihan bicara secara terus menerus. Dalam latihan itu pun sering terjadi kesalahan-kesalahan tapi ya memang seperti itu latihan 'try and error'. Bukan berarti kita bebas mencampuradukkan dua bahasa [yang tidak bersalah itu] menjadi tidak bermakna atau tidak pada 'tempatnya'. Jikalau memang ingin menggunakan dua bahasa maka tuntaskan satu kalimat dengan satu bahasa [dengan benar] lalu disusul dengan bahasa lain pada kalimat selanjutnya agar enak didengar dan dimengerti maknanya.
Dan jangan lupa, diskusikan tentang pemakaian bahasa yang benar pada orang yang benar. Jangan asal comot sana sini lalu pakai seenaknya sendiri karena menggunakan bahasa asing dengan benar sama dengan kita belajar menghargai keragaman budaya yang ada.
Jangan 'salah tempat' lagi ya..... :-D
*Bersyukurlah kalian yang diberi kesempatan mempelajari bahasa arab maupun bahasa inggris. Teruslah belajar dan jangan cepat puas. Mengutip kata-kata Bapak Fatkurrahman, S.IP., M.Si., dosen Hubungan Internasional FISIP UGM, "Jika kau ingin menggenggam dunia maka kuasailah bahasa inggris. Jika kau ingin menggenggam dunia dan akhirat maka kuasailah bahasa arab"
Minggu, 11 Juli 2010
Tepi Waktu
Kuibaratkan sebuah padang lapang, tempat yang pantas untuk menepi atau lebih tepatnya ditepikan, menyingkir atau lebih tepatnya disingkirkan dan tersingkir. Menepi-ditepikan, menyingkir-disingkirkan/teJika ingin ‘hidup’ di belantara ini, yang harus kumiliki adalah menebalkan esensi rasa percaya. Jika perlu, tiap mili sekon dari waktu yang ada, akan kugunakan untuk memeriksa rasa percayaku, menebal atau menipis?
Ada yang bilang jika sendiri itu sebuah keindahan dan aku takkan pernah menyangkal itu tetapi aku juga takkan mengingkari bahwa semua itu takkan berarti jika kesendirian itu datang tidak tepat pada waktunya. Saat aku ingin ditemani dan didengar, lantas aku mendapati diriku hanya sendiri, ditepikan di salah satu sudut waktu dengan berbagai alasan sebagai pembenaran. Lalu, yang kulakukan hanyalah menerima dan melogika. Merangkainya lalu merasakan dan akhirnya akan kutelan, kubunuh waktuku dengan sendirianku. Rasakanlah, betapa menyedihkan keadaan itu!!! Meski suatu saat nanti, saat aku mati, aku akan juga sendiri. Saat itu, aku tak kan meminta siapa pun untuk menemaniku. Tak seorangpun, meski itu adalah orang yang menjadikanku rusuk kanannya.
*Nb: Sebuah pesan cantik [menurutku] dari potongan sebuah lagu singgah di wall-ku, pesan yang dikirim oleh seorang sahabat karibku, memang tiba di saat yang [sangat] tepat, saat di mana aku harus menebalkan esensi rasa percaya diantara semakin tebalnya rasa rindu.
Malam minggu ‘terindah’,
semarak kota Never Ending Asia, 10 Juli 2010
Minggu, 04 Juli 2010
Menyederhana Cinta

Cinta...
Aku kehilangan kata di hadapan cinta tapi aku tak kehilangan makna di hadapannya.
Aku meninggi dan dimulya.
Cinta membekukan suara saat aku di hadapnya tapi cinta mampu mengejawantah pada rasa. Rasa jujur dan apa adanya. Senang terurai pada senyum simpul tak berkesudahan dan kecewa bereaksi pada kemarahan. Itulah cinta yang menyederhana. Bahkan kecewa, yang tanpa cinta tak mampu aku memilikinya. Cinta bertahta dan kuasa pada apa pun juga bahkan logika pun akan tunduk pada mulya cinta.
Menyederhana cinta.
Sesederhana cinta dan aku yang memilikinya...
Ngawi, 27 Mei 2010
Kamis, 20 Mei 2010
udara

Kamis, 13 Mei 2010, aku memulainya benar-benar dengan hati. Dimulai dari pagi buta, aku telah menyisir sejengkal dari Kota Berhati Nyaman, Yogyakarta. Benar-benar sepi, lengang dan tenang. Menyajikan wajah kejujuran. Berjalan di sekitar kampus sambil menghitung kendaraan yang lewat., sebuah kesia-sian [mungkin] Bahkan, portal masuk di Jalan Sosio Humaniora belum ada antrian panjang, hanya ada tiga satpam. yang berbincang. Suasana kampus yang tenang dan memang hari itu sepi karena libur nasional dan aku masih menikmatinya.
Matahari meninggi dan aku masih menikmati "wajah kejujuran" yang tersaji hari ini. Duduk di bawah pohon di trotoar sambil merasakan gerakan udara. Sendirian saja.
Minggu ini serasa aku "ditelantarkan", ayah bunda kuhubungi tak kunjung berbalas sapa. Baru kutahu ternyata sedang menikmati liburan kecilnya. Benar-benar sendiri dan waktunya bersahabat dengan sepi. Minggu ini rasanya seperti ditinggal pergi atau tersisih dari orang terkasih karena amanah yang memang menuntut lebih. Entahlah, saat ini memang ingin memenangkan ego diri bahwa aku ingin ditemani.
Masih kunikmati gerakan lembut udara di sekitarku, sambil menyibukkan diri dengan sesuatu yang harus kuhafal. Sedikit lelah dan aku berhenti, berganti berpikir tentang udara yang kunikmati.
Udara, keberadaannya selalu ada. Dan memang dia dibutuhkan tak hanya bernafas tetapi juga sebagai teman. Teman bercerita yang hanya mampu mendengar secara abstrak, begitu aku membahasakannya.
Udara, jika dia bertelinga maka bisa kupastikan akan memerah telinganya karena lelah mendengarkanku bicara.
Udara, jika dia mempunyai mulut dan bibir serta mampu bersuara maka akan kudapati balasan sapa dan kata yang kudendangkan hari ini. Bahkan [mungkin], sesekali terdengar tawa renyah karena cerita tentang kekonyolan, kecorobohan ,ketidaktahuan bahkan tentang cerita memalukan sekalipun.
Udara, jika dia bertangan, aku ingin menggenggamnya dan bergerak bersamanya. Bukan malah stagnan karena mood yang berperan.
Ya, aku ingin didengarkan!
Aku masih mampu mendengar dan mampu menampung curahan hati siapa pun. Tetapi kali ini, hanya ingin pasif dan didengarkan. Meski ingin didengarkan bukan berarti aku berhenti untuk mendengar. Sekarang aku hanya ingin didengar!
Sederhana. Mengudara.
Berbicara pada udara bukan berarti aku gila karena aku hanya ingin menyederhana bersamanya.
Ya, udara...
nb: gambar diambil dari flickr.com "in the air"
Jumat, 26 Februari 2010
aku datang

Aku datang,
membawa serta rindu dalam genggaman
Aku datang,
bersama kasih yang tertuang, mengalir tenang dalam muaranya
Aku datang,
bersama untaian harapan yang masih samar-samar
Aku datang,
menyambut gelayut mimpi kota berhati nyaman
Dari sini,
dari nurani
aku memulai mendatangi mimpi
mengasihi harapanku sendiri
mencetaknya menjadi keping jejak-jejak kaki
Ya itu kaki,
yang tak lain adalah kakiku sendiri
Suatu hari nanti
Minggu, 27 Desember 2009
Makna Hidup dari Ngebut

Tanpa berpikir panjang, saya mengiyakan ketika seorang kawan dengan sangat ringan berkata, "naik motor aja". Ringan sekali ketika tangan tak terkendali memacu pengendali hingga terlihat 80km/jam dan sesekali 90km/jam. Kecepatan yang standar, mungkin. Menikmati mulusnya jalan Jogja-Solo tanpa hambatan. Berempat berkompetisi di jalanan. Berhenti bersama ketika dihadang lampu merah. Menyalip satu per satu kendaraan di depan kami juga bersama-sama. Menyamakan kecepatan agar tak tertinggal. Namun, pada akhirnya satu diantara kami tertinggal karena mengurangi kecepatan dan terpaksa terhadang satu lampu merah ketika semua telah melaju. Yang lainnya terus melaju. Meski pada akhirnya karena satu pesan mampir di inbox kami "wooee, tungguin dong...!!!", kami memilih menunggu agar bisa terus sejajar di jalanan itu atas nama rasa setia kawan.
Tiba-tiba teringat tentang satu kuliah saat seorang dosen berkata, "Belajar itu jangan menunggu yang lain belajar. Saat yang lain belajar, Anda santai. Saat yang lain santai, Anda juga ikut santai. Kapan Anda maju? Apa Anda bisa memastikan yang lainnya bersedia menunggu Anda? Anggap ini sebuah kompetisi!"
Ditulis,
Yogyakarta, 15 Juni 2009
Terimakasih:: Iphe, Ni'mah, Dila untuk having fun di jalanan....
Sabtu, 26 Desember 2009
Primadona
Kutahu suatu saat akan kuhapus semuanya
Kriteria emas yang selama ini membelengguku
Kutahu suatu saat kuakan benar-benar hidup
Dengan gaya dan aturan yang sudah teramat kudambakan
Jadi tunggu saja pasang kelima panca inderamu
Camkan dengan pasti kuyakin kau akan
Reff:
Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona
Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona
Kutahu suatu saat akan ada sebuah era baru
Di mana saatnya kuberbalik dan menertawakan teorimu
Kutahu suatu saat kita akan bertemu lagi
Dan seakan kau tak mengenalku tapi aku sudah tak peduli
Jadi tunggu saja pasang kelima panca inderamu
Camkan dengan pasti kuyakin kau akan
Chorus:
Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona
Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona
Chorus
Berhenti ...
Jumat, 11 Desember 2009
Let's to be Green Generation

Selasa (1/12) ditengah-tengah kesibukan menunggu jam kuliah berikutnya, saya dan seorang sahabat memutuskan untuk berbelanja kebutuhan 1 bulan ke depan. Saya tahu saat itu bukan zona waktu luang untuk berbelanja. Akhirnya saya memutuskan untuk berbelanja di supermarket terdekat dari kampus.
Sesi memilih, mengambil dan seleksi terhadap barang-barang akhirnya selesai, lalu saya dan sahabat saya menuju kasir. Keramaian di pusat perbelanjaan adalah hal yang biasa bagi saya tetapi tiap kali mengantre, menunggu giliran untuk membuat 'perhitungan' dengan kasir selalu membuat saya miris. Teriris.
Pandangan saya tertuju pada asisten sang kasir yang sangat cekatan memasukkan barang demi barang ke dalam plastik berwarna putih, memisahkan barang demi barang di plastik yang berbeda sesuai jenis barangnya. Saya benar-benar miris melihatnya. Biasanya, saya akan membawa tas belanja, mencampur barang-barang belanjaan tanpa memisahkan antara sabun, makanan, buah-buahan dan kawan-kawannya. Berbarengan dengan pengumuman yang bergaung di seantero supermarket mengenai pemanasan global, saya mengamati bagaimana belanjaan demi belanjaan dimasukkan ke kantong-kantong kresek oleh tangan-tangan gesit yang sudah bergerak terampil bagai robot. Tak sampai penuh, bahkan kadang setengah pun tidak, mereka mengambili kantong plastik baru. Di kassa yang lain saya melihat yang belanja pun tenang-tenang saja menyaksikan. Kenapa tidak? Berapa pun kantong plastik yang dipakai, itu sepenuhnya terserah pihak supermarket. Gratisan pula. Karena hari itu saya tidak membawa tas belanja karena acara belanja hari itu di luar rencana saya, akhirnya saya pulang ke kost dengan menenteng kantong plastik lebih dari 1 buah.
Kembali teringat, sambil mengamati gerakan tangan gesit asisten kasir tadi, dalam hati saya bertanya: haruskah seboros itu? Barangkali memang kebijakan dari toko yang mengharuskan berbagai jenis barang untuk tidak digabung dalam satu kantong. Tapi kenyataannya, plastik-plastik itu hanyalah sebagai alat angkut dari kasir menuju bagasi kendaraan atau dari kasir langsung menuju rumah. Lalu apa wujud nyata dari pengumuman di supermarket tadi tentang pemanasan global? Sebatas pengumumankah?
Sangat berbeda keadaannya ketika saya berbelanja di supermarket yang cukup besar dan terkenal, Carrefour -- Itulah kali pertama saya mengunjunginya bersama mbak kost-- dan tak lepas dari pengamatan saya, lewat pengeras suara beberapa kali terdengar imbauan untuk mengurangi sampah plastik, bahwa Bumi sedang mengalami pemanasan global, dan sudah tersedianya kantong belanja ramah lingkungan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau (ada dua pilihan: dua ribu perak berbahan plastik daur ulang dan sepuluh ribu perak untuk yang berbahan polyethylene).
Lalu di dekat kasir, tertempel sebuah stiker yang bunyinya kira-kira begini: petugas kasir diharuskan untuk menawarkan isi ulang pulsa dan kantong belanja ramah lingkungan pada para pembeli. Saya memperhatikan kiri-kanan, termasuk pada saat giliran saya membayar tiba. Memang betul saya ditawari pulsa dan kantong belanja ramah lingkungan. Saya memilih kantong harga sepuluh ribu perak dengan diskon 20%, hingga sekarang itulah tas belanja saya meskipun tak selalu belanja di supermarket dimana saya mendapatkannya.
Lain lagi ketika saya berbelanja di Superindo. Superindo punya kebijakan yang selangkah lebih mending. Jika belanjaan kita cukup banyak maka petugas di kasir akan menawarkan pemakaian kardus. Dan sudah ada kardus-kardus yang disediakan dalam jangkauan, hingga tak perlu tunggu lama untuk cari-cari ke gudang. Dua kali saya mengantre di kasir Superindo, saya menemukan banyak pembeli yang menolak pakai kardus meski belanjaan mereka banyak. Entah apa alasannya. Mungkin menurut mereka kurang praktis. Atau tidak terbiasa. Seperti Carrefour, Superindo juga menjual green bag, kantong belanja yang bisa dipakai berkali-kali. Green bag tersebut pun bisa didapat dengan gratis. Caranya? Mengumpulkan 70 stiker. Satu stiker didapat dengan belanja 10 ribu, dan stiker berikutnya di kelipatan 50 ribu. Jadi belanjalah dulu 10 ribu sebanyak 70 kali, atau belanja 3,5 juta untuk mendapatkan tas itu secara cuma-cuma atau dengan membeli seharga dua puluh ribu rupiah maka Anda akan mendapatkan green bag.

Memang, dibandingkan beberapa tahun yang lalu, inisiatif dari pihak supermarket/hipermarket sudah jauh lebih baik dan kreatif. Namun, apakah tidak bisa kita bergerak lebih cepat, lebih tajam, dan lebih langsung? Dan, mungkinkah perspektif yang digunakan pun sebetulnya terbalik? Jika benar-benar ingin mengurangi sampah plastik, kenapa justru pembeli yang tidak ingin menggunakan kantong kresek malah menjadi pihak yang harus mengeluarkan biaya ekstra dan tidak mendapat insentif apa pun? Sementara yang pakai kantong kresek tetap melenggang kangkung tanpa sanksi apa-apa? Tidakkah ini jadi mengimplikasikan bahwa gerakan go-green itu 'lebih mahal' dan 'repot', sementara yang sebaliknya justru 'gratis' dan 'praktis'? Di mata saya, penjualan kantong-kantong ramah lingkungan tersebut pun, selama masih menggunakan bahan baku baru dan bukan hasil daur ulang, akhirnya cuma jadi komoditas biasa. Seperti halnya jualan sabun atau sayur. Sementara yang paling penting adalah BERHENTI memproduksi barang baru dan menggunakan ulang apa yang ada. Yang paling penting bukanlah mencetak tulisan "Selamatkan Bumi" di selembar kain kanvas atau di kain polyethylene lalu menjudulinya tas ramah lingkungan, melainkan membuat kebijakan yang benar-benar realistis dan berpihak pada lingkungan.
Menurut survei yang dilakukan oleh kakak kost saya, Adibah Sayyidati dalam rangka hibah penelitian Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Departement Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada menyatakan bahwa mayoritas ibu-ibu rumah tangga khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta lebih memilih menggunakan plastik saat belanja karena faktor ekonomis dan plastik bisa digunakan untuk membungkus sampah rumah tangga. Selain itu, mereka mengaku belum mengerti fungsi dan manfaat green bag itu sendiri.
Menurut saya, akan lebih baik jika pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk penggunaan kardus atau green bag untuk semua supermarket/hipermarket dan mengadakan sanksi bagi kedua belah pihak --antara pengelola supermarket dan konsumen-- yang tidak mematuhi kebijakannya serta mempermudah dalam mendapatkan green bag, --meniru kebijakan pemerintah Taiwan, Hongkong dan Jepang--. Hal terpenting adalah mengadakan sosialisasi pada masyarakat betapa pentingnya mengurangi penggunaan plastik dan memprioritaskan pemakaian green bag saat belanja.
Bumi kita telah tercekik plastik. Lalu apakah kita hanya akan berteriak ' Save our environment', 'Stop Global Warming', 'Go Green' dsb tanpa berbuat sesuatu? Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga bumi ini salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik.
Keep fighting spirit to save the world . . . !!!
Ditulis di,
Kandang Eksekutif Muda, 3 Desember 2009
Posting,
Rumah penuh cinta, 11 Desember 2009
Terimakasih untuk,
Mbak Diba, Mbak Munche dan Aull atas partisipasi kalian dalam menghidupkan nuansa 'intelektualitas' di kandang beruang
Mbak Dewi untuk senantiasa membimbingku untuk terus bisa produktif dan selalu menghargai waktu terutama waktu salat.




