topbella

Selasa, 21 Juli 2009

ganti baju

Pagi ini, sengaja saya menyelesaikan semua kewajiban itu lebih awal. Lalu saya bergegas ke dag untuk menikmati panorama pagi dari ketinggian. Jalanan yang sepi berubah menjadi sangat ramai dan didominasi oleh para pelajar yang ingin berangkat ke madrasah agung.

Pagi ini, sedikit mengingatkan saya tentang 'dresscode' yang pernah saya kenakan. Kemeja kuning dengan baju luarannya sepanjang lutut berwarna hijau ditambah dasi mungil sebagai hiasannya. Waktu mengajak saya bergegas untuk mengenakan kemeja putih dan rok merah. Cukup lama saya mengenakan 'putih-merah' ini, selama 6 tahun. Pergi ke sekolah kadang diantar kadang bersepeda dengan teman-teman. Masa yang indah karena dalam episode ini terakhir kali saya bersepeda ke sekolah. Masa yang menyenangkan. Waktu terus mengantar saya pada episode kehidupan yang baru, 'putih-biru' menyambut. Sedikit dewasa pada sesi ini. Belajar 'mempermainan' angka dalam rumus-rumus, berkata dengan bahasa asing dan memiliki teman dari penjuru kota yang bersemangat ini. Waktu lagi-lagi tak ingin menunggu dan mengajak saya hijrah ke kota budaya 'solo the spirit of java', dunia 'putih abu-abu' mengucap welcome atas kedatangan saya. Episode ini mengajak saya 'belajar' lebih serius walaupun realita harus memaksa saya untuk jujur mengakui bahwa saya tak serajin dalam angan saya. Ini adalah episode spesial karena jauh dari orangtua dan tinggal di asmadera. Belajar tentang banyak hal, dari segala sesuatu yang ada di bangku sekolah hingga maddah kehidupan yang terkadang harus ditelan mentah-mentah diproses hingga bisa matang berbuah hikmah untuk bekal hidup selanjutnya. 3 tahun cukup sebentar untuk saya, karena di kota budaya persahabatan, cita, cinta, duka, luka dan rindu tergenggam. Waktu seolah musuh yang memaksa saya untuk berpisah dari apa yang sudah saya nikmati dan waktu pun telah memilih tempat pemberhentian selanjutnya yang 'fullcolor' di kota never ending asia. Kota yang indah katanya. Memang indah, lebih indah dari kota budaya, lebih lengkap mulai dari etnik hingga makanannya. Tempat pariwisata bahkan musiumnya.

Waktu yang selalu jadi jembatan masa dan berani memberi hal-hal baru, menawarkan banyak pilihan walau tak semua akan jadi realita tetapi waktu telah berjasa karena kita bisa bermimpi. Memiliki bagian terbesar dalam hidup, melahirkan sejarah yang akan menggantung hati-hati para pemiliknya. Katanya, sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia tapi tidak melekat utuh pada realita. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh. Sejarah lahir dari rahim waktu. Lagi-lagi waktu memberi keluangan untuk 'ganti baju', membuka lembaran baru, menapakinya dengan jejak baru. Sekarang -mungkin- sebuah keberuntungan ketika saya dan Anda bisa 'ganti baju' di setiap episode dalam hidup ini. Selamat 'ganti baju' tahun ini.....


Ngawi bersemangat, 21 Juli 2009

Untuk 'embun malamku' yang baru saja 'ganti baju'
selamat menikmati 'abu-abuer zone'
in the real excellent school



Sabtu, 11 Juli 2009

Putih-Biru2



Dulu impian akan masa depan masih abu-abu tapi kini kita telah punya jalan menuju mimpi. Di bangku ini kita belajar memahami. Di kelas ini kita mencoba menghiasi.

Hmmmm....

Putih-Biru


Masa Putih-Biru...

Ah...Eh...Oh...

Semua rahasia bermula disini hingga kini...

Selasa, 09 Juni 2009

bukan awan hanya senyuman


Kau bukan awan yang mampu menaungiku ketika aku kepanasan

Kau bukan awan yang mampu menghadirkan rembulan saat aku kegelapan

Kau bukan awan yang mampu melindungiku saat peluh langit berguguran

Kau bukan awan yang kuasa menaklukkan kehidupan

Karena awan terlalu rapuh,

Dia selalu ada tetapi dia lemah,

Dia mudah pecah,

Dia mudah terbelah

Tak mengharapkanmu menjadi awan

Karena cukup bagiku, kau menjadi senyuman

Tak perlu banyak alasan karena telah kumiliki segalanya jika senyuman telah tergenggam

Tabur bintang kilau senyuman

Karena Senyuman Yang Membuatku Berkecukupan




MEC, 29 Mei 2009

Dimanapun, awan akan terlihat selalu indah--MEC, perpus selasar selatan, perpustakaan, plasa lt 2, C201, G. A210, R. Dosen selasar utara, G. F301, G. F303, Learning Plaza, jembatan budaya--

Inspirasi:
Awan-
"Ayo bergerak! Saat spt ni jgn gunain filosofi awanmu, Ka!"-
"Senyumanmu"__Letto-





Selasa, 26 Mei 2009

Membuat Crepe Manis


Crepes sangat populer di perancis. Bentuknya seperti serabi tetapi lebih ringan dan tipis. Kalau kalian mau, gak perlu menunggu lama-lama untuk mencobanya. Cukup pergi ke dapur dan siapkan bahan-bahannya.


* 3 butir telur
* 40 gram gula
* 250 gram tepung terigu
* 2 sendok teh mentega cair atau minyak
* 500 ml susu
* garam secukupnya


Ikuti langkah-langkah berikut:

Kocoklah telur lalu tambahkan gula, tepung terigu, garam dan mentega atau minyak. Pelan-pelan tambahkan susu dan aduklah adonan sampai benar-benar tercampur. Panaskan penggorengan. Tuangkan adonan ke dalam penggorengan sedikit demi sedikit. Balik atau goyangkan selama memasak sampai berwarna keemasan. Makanlah Crepe dengan isi roti sesuai selera. Lebih nikmat jika dinikmati dengan secangkir coklat panas di musim dingin di negara asal ^_^....
Selamat Mencoba...!!!







Entschuldigung

"Ingatkah kau, drama di bulan ini?"
Sebenarnya tak ada maksud untuk membuka luka lama. Sebenarnya aku pun tak ingin mengingatnya tapi aku harus tunduk pada permainan perasaan dan pikiran yang kemudian memainkan slide show dua tahun yang lalu. Bulan ini, Mei--entah hanya aku yang ingat atau kau dan mereka pun juga mengingatnya-- genap dua tahun (tepatnya tanggal berapa, aku lupa. Yang kuingat itu terjadi di bulan Mei) perdamaian kita tanpa tahu apa masalahnya secara jelas. Kekanak-kanakkankah? Keegoisankah? Kesalahpahamankah? Entahlah. . . Kutahu kita saling menyakiti atau hanya aku yang menyiksa diri. Kau selalu sembunyi di balik senar gitar dan temaram malam. Aku tak tahu, apakah kau merasa aku melukaimu hingga kau tak merasa tersakiti karena aku telah sering menanam luka itu dalam hatimu. Ya, kau telah terbiasa. Orang bilang padaku, kau bisa merajut senyum untuk mereka tapi mahalkah senyum itu untukku? Orang selalu memujimu tapi aku mengenalmu dengan versi yang kumau. Itulah masalahku.


***

Mei 2007

Malam memuram. Kita terdiam. Diamku, diammu, diam kita telah melukai udara membuat alam enggan bersuara. Aku yakin malam ini kau sedang bercumbu dengan sepotong kue kuning di angkasa sambil kau susutkan airmatamu. Aku tak pernah tahu bagaimana sakitmu karena kau tak pernah brontak padaku. Diammu adalah sangkar bagi perasaanku karena aku tak pernah tahu apa yang kau rasa. Aku hanya bisa menebaknya. Inginku dalam diammu kudengar banyak suara karena aku yakin diammu adalah kata-kata. Namun, lagi-lagi aku tak bisa. Malam ini, aku tak melihatmu tapi tangisanmu yang tak terlihat telah merobek waktuku dan menghampiriku dengan caranya sendiri.

Kita sama-sama tahu bahwa kata terlahir dari huruf yang berpasangan. Kita juga sama-sama tahu seindah apa pun kata terukir ia tak kan bermakna jika tanpa jeda. Kita pun sama-sama mengerti akan hal itu dan kita pun menyadari jeda di antara kita kian melebar. Kuputuskan datang menjengukmu ke tempat yang kau agung-agungkan sebagai singgasanamu. Kedatanganku ke singgasanamu kali ini bukan tanpa misi. Aku ingin kita sepakat menghapus beberapa jengkal jeda yang kita punya lalu kita ciptakan spasi secukupnya agar kita bisa bergerak untuk saling mengerti dan menghargai. Itulah misiku.

Dalam raga kita ada hati, dalam hati masih ada satu ruang tak bernama. Ruang itu kecil, isinya sangat halus, lebih halus daripada serat sutera. Berkata dengan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh nurani. Harapanku, apa yang ada dalam genggamanku saat ini adalah kunci untuk membuka ruang tak bernama itu agar kutemukan serbuk-serbuk pengampunan darimu. Kunci itu adalah misiku yang kuat yang bisa menguatkanku hingga aku ada di hadapanmu. Seperti sekarang ini. Kita tak sendiri. Kita berdelapan. Ada enam belas bola mata yang menyaksikan termasuk mata kita yang sibuk mencari jawaban, sibuk mengumpulkan daya untuk sebuah pengakuan atas nama kejujuran. Kita tertunduk. Sibuk. Diam tanpa kata.

"Mulailah agar semua ini cepat berakhir", batinku. Semua terdiam seolah biarlah kita bicara dengan hati. Bicaralah maka akan kita dengar tanpa kita perlu alat, tak perlu hadir hanya untuk bercakap.
"Ayolah...!!!", seruku tapi tidak ada gelombang untuk menyuarakan. Hening. Aku masih diam sambil menunggu seseorang yang telah berjanji menemaniku untuk perdamaian ini. Dia teman seperjuangan dalam menyelesaikan kontrak kerja yang telah mengikat kami dalam satu tim.
"Maaf. . . Maaf. . . Aku terlambat", teriaknya. Kutatap dia dan dalam tatapanku kuingin dia melihat kelegaan dalam diriku.
"Akhirnya kau datang kawan", seruku tapi masih tetap dalam kebisuanku.
"Kedatanganku kemari. . ." Itulah awal kata yang meluncur dari bibirku.
" Jangan katakan apa pun!", perintahnya. "Sebelum kau terima tisu ini. Aku tak ingin melihat airmatamu keluar sia-sia. Aku terlambat karena membeli ini." lanjutnya dengan gaya slengekkannya. Itu sangat menghiburku di saat seperti ini.
"Terimakasih. . ." Aku jawab dengan sebuah anggukan.
"Di saat kritis seperti ini kau masih sempat bercanda?", pikirku. Kubalas slengekkannya, "Apa kau cuci dulu tisu ini sebelum kau berikan padaku? Baunya seperti deterjen. Bau Rinso." Dia tertawa dan aku semakin lega akan kehadirannya. Suasana mulai mencair. "Terimakasih kawan, ini sangat harum."

Kumulai merajut kata. Semua diam. Semua masih menunggu mutiara yang akan terlahir dalam perdamaian ini. Tak perlu menyita banyak waktu. Akhirnya selesai juga rajutan kata itu. Aku memulai negoisasi itu.
"Kedatanganku kali ini yang pertama untuk menyambung persaudaraan di antara kita. Kita tahu apa yang terjadi tanpa perlu ditutupi lagi. Aku ingin meminta kerelaanmu untuk memaafkanku atas semua sikap dan keegoisanku. Jika boleh, ijinkan aku memintamu agar kau tak pergi dari kontrak yang telah kita sepakati bersama. Kita semua saling membutuhkan untuk saling melengkapi. Maukah kau menerima permintaanku?"

"Tak pantas rasanya jika kau meminta itu padaku. Aku tak pantas menerimanya. Justru aku yang harus meminta maaf atas semua ini. Aku hanyalah sehelai benang cacat yang hadir dalam selembar kain yang kau sulam sangat sempurna. Maka buanglah benang cacat itu agar kainmu tetap indah. Aku rela jika. . ."

"Dalam sulamanku tak ada benang cacat karena aku telah memilihnya dengan teliti. Aku mohon, kembalilah bekerja dan sempurnakan keberadaan kami. Cobalah. . .!!!"

Kulihat kau tak menolak dan kau pun juga tak mengiyakannya. Biarlah, kali ini kubiarkan kau berfikir. Kubiarkan kau berdiskusi dengan pikiran dan nuranimu sendiri tanpa perlu aku menerobos masuk untuk mengetahui proses yang sedang kau jalani. Berakhir sudah negoisasi perdamaian ini walau terkesan menggantung. Masih saja aku membiarkan nuraniku berharap padamu agar pintu untuk memasuki ruang itu terbuka lebar. Agar spasi yang telah hadir terhapus hingga tercipta jeda yang wajar. Bukalah dirimu karena membuka diri berbeda dengan menyerahkannya. Di ruang kecil itu ada teras untuk tamu. Tak lelah aku berharap agar aku bisa menjadi tamu dan duduk di teras itu sebagai sahabatmu. Salah satu sahabat dari sekian banyak sahabat yang kau miliki. Sulit sekali aku mengatakannya. Akhirnya terkatakn juga, "Entschuldigung."


***

Lamunanku pun selesai bersama bulir-bulir peluh langit yang gugur karena lelah berarak. Teater singkat yang menjebakku pada masa lalu itu telah menutup layarnya tanda pementasan singkat itu telah usai. Andai aku tahu kemana peluh-peluh langit itu bermuara maka akan kutitipkan pesan singkat itu untukmu. Andai pesan itu sampai maka akan kau dapati aku berucap, "Entschuldigung. . . Entschuldigung. . . Entschuldigung. . . !!!"

Teater yang kuciptakan terasa amat sempurna karena sayup-sayup terdengar sebuah lagu merdu dan kubiarkan lagu itu melintas hingga tertangkap oleh pendengaranku.




Pertengkaran Kecil

Sedih bila kuingat pertengkaran itu
Membuat jarak antara kita
Resah tiada menentu
Hilang canda tawamu
Tak ingin aku begini
Tak ingin begini

Sobat rangkaian masa yang telah terlewat
Buat batinku menangis
Mungkin karena egoku
Mungkin karena egomu
Maaf aku buat begini
Maaf aku begini

Bila ingat kembali janji persahabatan kita
Takkan mau berpisah karena ini
Pertengkaran kecil kemarin cukup jadi lembaran hikmah
Karena aku ingin tetap sahabatmu



By : Edcoustic




Dengarkanlah. . . !!! Rasakanlah. . . !!! Kisah ini teramat indah untuk disia-siakan. . .












Kota Berhati Nyaman, Mei 2009


"Senyum dan airmata akan terasa indah jika tepat pada waktunya"
"Terimaksih kawan-kawan karena kalian telah mengajariku berkisah"









Note: "Entschuldigung" diambil dari bahasa jerman yang berarti "Maafkan aku..."









Selasa, 28 April 2009

Tak Ada Yang Salah

"Mbak, ini fotomu waktu masih kecil?"
"Iya, kenapa?"
"Sangat cantik."

Tak sengaja aku masuk ke kamar temanku, Mbak Ning saat dia merapikan kamarnya. Kulihat selembar foto di atas meja belajarnya. Foto masa kecilnya. Sangat tertutup. Dia telah berkerudung sejak kecil. Sangat cantik. "Apakah aku punya foto yang sama seperti Mbak Ning saat aku kecil?", lirihku.

***

Selalu seperti itu. Tiap kali putriku pulang, selalu kudapati ia dalam waktu luangnya, tidur tengkurap di lantai kamarnya, mengangkat kedua kakinya dan mengadunya satu sama lain, ditemani bantal dan 'bed cover' kesayangannya sambil membaca, serta alunan musik yang memeriahkan suasana kamarnya, entah apa yang dibacanya. Kemudian dia akan berbicara sendiri, mengomentari apa yang dia baca. Kubiarkan saja seperti itu karena tak setiap hari aku melihatnya. Tetapi kali ini berbeda, kulihat dia tak membaca melainkan melihat album-album foto. Sangat asyik kelihatannya. Tetap kubiarkan dia bersama dunianya. Aku hanya diam tanpa kata di tempatku berdiri. Tanpa kusadari, ingatan itu hadir tanpa permisi.

"Bunda, aku ikut tari di sekolah untuk acara perpisahan kakak-kakak kelas nol besar besok."
"Benarkah? Ikut tari?"
"Hmm...", dengan anggukan penuh kemantapan.
"Kata Bu Qonik, suruh bawa selendang dan kipas. Bunda belikan selendang dan kipas yaa?"
"Iya, nanti kita beli."
"Yang bagus yaa Bunda."
"Iya.."
"Yang warnanya merah."
"Iya, nanti kamu pilih sendiri."


Sentuhan tangan suamiku memaksaku mengakhiri pengembaraan masa lalu.
"Ayah, lihat putri kita. Aku tak menyangka jika dia akan seperti sekarang. Ayah ingat saat dia kecil, dia ingin sekali menjadi penari atau balerina. Dia selalu menari. Dia ingin memakai gaun balerina itu. Menari di atas panggung dengan alunan musik klasik. Ayah ingat?"
"Iya, aku ingat. Dia sangat centil. Dia akan marah jika pita dan baju yang kau pilih tak sama. Iya kan?"
"He-em..."


"Ayah, Bunda temani aku...", teriaknya.
"Apa yang kau lakukan, Yang?"
"Bunda, coba lihat, apa ini aku?"
"Iya. Memangnya apa yang sedang kau cari?"
"Aku ingin foto masa kecilku sama seperti foto masa kecil temanku di asrama, Bunda. Tapi aku tak mendapatkannya. Apa Bunda menyimpannya untukku?"
"Foto seperti apa?", jawab kami serentak.
"Foto seperti aku yang sekarang Bunda, yang pake jilbab. Ada?"

Aku hanya diam. Suamiku hanya tersenyum padaku. Kutangkap isyarat agar aku bicara jujur padanya.

"Maafkan Bunda, Sayang. Bunda membesarkanmu jauh dari aroma surga. Bunda membesarkanmu hanya dengan dunia. Maafkan kami yang berbeda dengan orangtua yang lain dimana mereka bisa mengajari dan menemani anak-anaknya merenda waktu di atas sajadah panjang. Memulai dengan syahadatain dan mengakhirinya dengan salam. Membaca surat-surat cinta dari Izzati Rabbi di setiap waktu-waktu mereka. Kami pun juga masih belajar untuk berbenah. Maafkan kami, Sayang..."

"Bunda, tak ada yang salah jika aku tak memiliki apa yang dimiliki oleh teman-temanku. Tak kan kupinta lagi apa yang tak ada dan apa yang telah lalu. Bunda, jangan ucapkan kata maaf lagi karena tak ada yang salah. Apa pun yang Ayah dan Bunda beri padaku itu adalah ni'mat dan anugerah terindah. Aku juga punya apa-apa yang tidak mereka miliki. Aku sayang Bunda dan Ayah karena Allah. Aku bangga memiliki kalian."

Dia mencium tanganku. Mencium pipiku dan memelukku. Hanya rasa sesal yang tertinggal.


***

Kau beruntung Mbak Ning dan aku jaga beruntung dengan apa yang kumiliki. Tak ada yang salah dengan masa laluku. Ini adalah skenario Tuhan yang harus berjalan dan dijalani. Tak ada yang salah.







El Firdaus zone, Februari 2008
Dalam suasana hangat menyambut datangnya "rememberance"





Mengenai Saya

Foto saya
Ngawi, Jawa TimuR, Indonesia
Bukan dari tulang ubun ia diciptakan, Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja, Tak juga dari tulang kaki karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak. Tetapi dari rusuk kiri dekat ke hati untuk dicintai. Dekat ke tangan untuk dilindungi.